Kamis, 23 September 2010

Sekelompok Bidadari Kecil


Bidadari kecil itu menatapku. DIa terus menatapku, tak bicara, pun tak rela melepaskan pandangannya dariku. Tatapan lembut, namun tajam hingga rasanya langsung menembus ulu hati terdalam, membiarkanku merasakan campur aduknya rasa yang menjalar dihati. Tatapan itu seolah bertanya, bagaimana aku menjalani hidupku selama ini. Dan dia bertanya lagi, apakah aku ini benar-benar mampu memberikan manfaat baginya dan sekelompok bidadari-bidadari kecil yang melakukan hal yang sama dengannya saat itu. Lalu dia bertanya kembali, adakah aku ini sungguh mampu mencintai mereka semua sepenuh hati dan tanpa syarat? Makin banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan darinya, lalu dari bidadari kecil yang itu, bidadari kecil yang disebelah sana dan bidadari kecil yang disebelah situ. Pertanyaan yang mereka lontarkan hanya, lewat tatapan.

Berikutnya, suguhan yang jauh lebih manis, lebih indah, jelas mereka bagi padaku. Ya. Bidadari kecil itu akhirnya menarik sudut bibirnya dan memberikan senyuman terindah mereka untukku. Satu persatu mereka tersenyum, tulus, seolah memelukku erat-erat dan menghadirkan ketenangan yang luar biasa. Jiwa mereka yang suci, pikiran mereka yang bersih, ketidakinginan mereka meracuni hati membuat senyum mereka seolah berkata padaku, jika saat ini aku memang belum banyak melakukan hal yang berguna dalam hidup ini, maka mulailah dan melangkahlah untuk berubah. Jika selama ini hanya sedikit manfaat yang mampu kujanjikan pada mereka, maka jangan pernah berhenti belajar, hingga suatu hari nanti, banyak manfaat-manfaat lain yang bisa kubagikan. Jika terkadang cinta itu hanya hadir setengah-setengah, aku tak perlu khawatir, karena mereka berjanji akan mencintai aku apa adanya, sepenuh hati mereka, setulus hati, tanpa syarat dan suatu hari nanti aku pun akan melakukan hal yang sama pada mereka, sekelompok bidadari kecil. Dan lewat senyum itu mereka seolah berkata, jika kelak aku merasa lelah, maka berhentilah sejenak, edarkanlah pandangan ke sekelilingku, maka akan kudapati mereka tetap disana dengan tatapan lembut nan tajam juga senyum paling tulus.

Bidadari-bidadari kecil itu adalah perantara. Perantara Alloh untuk selalu memberikanku peringatan dan pembelajaran. Juga perantara yang Dia pilih untuk berbagi kasih. Lewat tatapan lembut nan tajam Dia beri aku kritik membangun untuk menyadari kesalahan dan segera memperbaikinya dan lewat senyuman Dia membagikan kasihNya yang begitu luar biasa.

Bidadari-bidadari kecilku, terima kasih untuk semua 'protes' yang kalian berikan meski hanya lewat tatapan. Terima kasih untuk semua cinta yang kalian berikan meski hanya lewat senyuman. Aku pasti mencintai kalian semua, dan aku pastikan itu adalah cinta tanpa syarat.

*untuk semua anak-anak di Indonesia dan seluruh dunia, kalianlah bidadari-bidadari kecil itu*


Rabu, 22 September 2010

Tentang Guru


Kawan, masih ingatkah kalian dengan guru-guru kalian dimasa lampau? Pasti masih. Meskipun saya yakin, tidak semua guru kalian ingat. Guru yang bagaimanakah yang ada diingatan kalian? Kalo boleh saya menebak, pasti kriterianya seputar fisik, galak tidaknya dia dalam mengajar atau keanehan-keanehan khusus yang mereka miliki yang membuat kenangan kita melekat erat pada mereka. Saya pun demikian.

Kemudian kawan, pernahkah kalian memberikan sebutan-sebutan nan ajaib yang pada saat itu dianggap sangat indah oleh kalian, untuk guru-guru kalian dimasa lampau? Sebagian besar, pasti pernah. Meskipun terdengar sok yakin, tapi saya mengira, setiap guru pasti punya "nama kedua" yang dianugerahkan oleh murid-muridnya. Dan "nama kedua" ini, yang dianugerahkan dengan bangganya ini, pasti tidak lebih bagus dari nama asli mereka. Begitu kan? Berapa kalikah kalian memanggil mereka-mereka ini dengan "nama kedua" mereka? Lebih dari 2 kali, bukan? Karena saya pun demikian.

Lalu kawan, seberapa seringkah tawa kalian mengiringi kalian ketika kalian dan kawan-kawan yang lain menyebutkan "nama kedua" mereka? kalian lebih sering tertawa berbisik, tertahan, atau justru lepas dan membiarkan tawa itu menjurus pada arah merendahkan? Saya pun tak lagi ingat berapa sering itu saya lakukan dan tertawa macam apa yang saya lakukan.

Berikutnya kawan, apakah menurut kalian mereka tahu bahwa mereka memiliki "nama kedua"? Pasti kalian dengan serempak menjawab "iya". Saya pun akan dengan keras berkata "ya, mereka tau". Lalu apa yang mereka lakukan? Adakah mereka lalu tidak mau masuk ke kelas ketika mereka harus mengajar kalian? Ataukah mereka bersedia masuk, tapi dengan wajah yang kusut? Ataukah mereka masuk kelas hanya untuk menghajar mulut-mulut kalian? Yang ini jawabnya hanya satu, "tidak". Padahal saya yakin, bila seseorang menganugerahimu dengan "nama kedua" kawan, kamu pasti bergegas menganugerahkan orang itu "muka merah berasap" yang disertai dengan "bogem mentah" atau malah diberi bonus "sepatu pegang hidung".

Selanjutnya kawan, apakah menurut kalian mudah berdiri dihadapan banyak orang, yang tipenya sama sekali tidak sama, selama 2 jam, untuk menyampaikan satu materi yang bisa menambah pengetahuan mereka? pernahkah kalian berfikir untuk sekali saja, mencoba menggantikan mereka untuk menyampaikan materi sembari menghandle satu massa? Kalau belum, saya sarankan cobalah. Cobalah berdiri di depan, sampaikan materi yang paling sederhana, tidak usah sampai 2 jam, tapi cobalah 15 menit saja. Maka kalian akan tahu, bahwa berdiri di depan, tidak hanya melulu soal penguasaan materi, tapi bagaimana kalian harus mengekspresikan keriaan yang kadang-kadang tak sejalan dengan hati dan pikiran.

Sungguh kawan, berdiri di depan, di posisi mereka, menyampaikan materi sembari berusaha "menguasai" massa, bukan suatu hal yang mudah dan pantas untuk menerima penganugerahan "nama kedua" dari kalian dan saya tentu saja. Posisi mereka, "memaksa" mereka harus menguasai 3 hal dalam satu waktu. Materi, Massa dan Hati. Bagaimanapun susahnya hidup mereka kawan, berapapun banyaknya derita pribadi yang tengah mereka rasakan, sama sekali tidak boleh ditunjukkan didepan sana. Berbeda sekali dengan kita yang bebas mengekspresikan ke BT an kita dibangku kita masing-masing.

Akhirnya kawan, penyesalan memang selalu datang belakangan. Seperti yang saya alami sekarang. Mengakui langsung bahwa dulu, duluuuu sekaliiii kita termasuk salah satu yang diam-diam memanggil mereka dengan "nama kedua" mereka, tentu bukan hal mudah dan amat sangat butuh keberanian. Maka datangilah kawan. Datangilah rumah mereka, bila memungkinkan. Kunjungi dan bawalah oleh-oleh lalu ajaklah mereka berbincang. Tidak usah yang serius untuk memperlihatkan kepintaran kalian, tapi yang mampu membuat mereka merasa nyaman. Maka meskipun tak ada pengakuan terucap, (meski saya yakin mereka tahu), dan tak ada ucapkan memaafkan yang mereka ucapkan, dalam hati kalian pasti sudah saling memaafkan.